Di bawah kepemimpinan Rayhan Kenandi, MPK ingin agar pemilik hak
suara benar-benar hadir ke tempat pemungutan suara untuk menentukan
pilihannya. “Karena tahun lalu banyak yang golput, bahkan mencapai 30
persen,” katanya kepada Tribun Jateng, Jumat (28/8).
Pengakuan Rayhan, kertas suara tahun lalu banyak yang rusak lantaran
pemilih hanya membuka kertas tanpa mencoblosnya, atau bahkan mencoblos
semua gambar calon.
“Oleh sebab itu tahun ini kami ingin agar pemilik suara bisa
mempertemukan aspirasi mereka dengan calon yang cocok secara visi dan
misi,” ujar siswa kelas 11 IPA tersebut. (*)
KENDAL – Empat siswa dari SMAN 1 Kendal atau yang dikenal
dengan Smanik, bersaing untuk memperebutkan jabatan prestise sebagai
calon Ketua OSIS baru, Jumat (28/8). Keempat calon tersebut akan
bersaing dalam Pemilihan Ketua OSIS (Pemkaos) untuk periode 2015/2016,
mereka adalah R Nanda Samsuseno (X MIPA 2), Septian Dwi Nugroho (XI IPS
1.1), Johannes Trialfaridzi W (XI MIPA 3), Elang Suryandaru (XI MIPA
4.1).
Menurut Ketua MPK, Rayhan Kenandi, yang juga sebagai penitia
penyelenggara Pemkaos 2015, konsep pemilihan memang sengaja dibuat
persis dengan Pilkada. Hal ini dilakukan agar para siswa dapat terbiasa
dengan proses demokratisasi. “Tahun ini, ada sekitar 1.116 siswa yang
tercatat sebagai pemilih. Mereka berasal dari 34 kelas yang ada di
Smanik,” ujarnya.
Untuk penyelenggaraan Pemkaos 2015 ini, pihaknya meminjam peralatan
dari KPUD Kendal seperti tiga kotak suara dan enam bilik suara. Salah
satu hal yang menjadi target dari panitia, selain kesuksesan
penyelenggaraan Pemkaos 2015, panitia juga berusaha untuk meminimalisir
jumlah Golput, yang paDA tahun sebelumnya mencapai hampir 30 persen.
“Tahun lalu, banyak dari siswa yang memilih Golput. Ini diperkirakan
karena jalannya kegiatan debat calon dilakukan secara tertutup.
Sedangkan tahun ini, debat kami buat terbuka sehingga para siswa bisa
tahu lebih banyak tentang para calonnya. Diharapkan dapat mengurangi
angka pemilih Golput pada Pemkaos 2015 ini,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Smanik, Sunarto, mengungkapkan, semua kegiatan
ini diselenggarakan oleh para siswa sendiri, mulai dari proses rekrutmen
calon, seleksi, hingga debat calon. Para guru hanya bersifat
mendampingi dan tidak campur tangan dalam proses pemilihannya.
“Kami berharap, para siswa akan menjadi terbiasa dan lebih dewasa
untuk hidup dalam lingkungan yang demokratis sejak masih di bangku
sekolah. Walaupun saat pemilihan ada perbedaan dukungan, para siswa
diminta untuk tetap solid pada saat menjadi pengurus OSIS, pada akhirnya
nanti,” ulasnya.
Dirinya juga berharap, mereka yang terpilih sebagai Ketua dan
pengurus OSIS, nantinya bisa mengemban amanah dan aspirasi dari
teman-teman lainnya. “Para pengurus terpilih, nantinya kami minta untuk
menyusun program kerja selama setahun mendatang dengan baik,” harapnya.
(yog)
Penulis: Muhammad Arif Prayoga | Radar Pekalongan – Widodo Lukito